Dialektika Wahyu dan Tradisi: Praktik Living Qur'an dalam Ritual Pranikah Masyarakat Minangkabau dan Otoritas Niniak Mamak 2016-2026

Authors

  • Oktari Kanus Universitas Negeri Padang, Indonesia
  • Riza Wardefi Universitas Negeri Padang, Indonesia
  • Desri Nengsih Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar, Indonesia
  • Nurjanah Universitas Negeri Padang, Indonesia
  • Ahmad Saerozi Universitas Islam Negeri Sunan Kudus, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.58540/isihumor.v4i2.1628

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena Living Qur'an dalam rangkaian tradisi pranikah masyarakat Minangkabau serta peran otoritas Niniak Mamak dalam mengintegrasikan hukum Munakahat Islam ke dalam tatanan adat. Menggunakan metode kualitatif deskriptif berbasis studi literatur sepuluh tahun terakhir (2016-2026), riset ini mengeksplorasi bagaimana teks al-Qur'an dipahami, difungsikan, dan direspon dalam praktik sosial-budaya. Kebaruan penelitian ini secara eksplisit terletak pada analisis komprehensif mengenai dialektika antara teks suci dan praktik lokal yang dimediasi oleh otoritas tradisional dalam satu dekade terakhir, guna menutup kesenjangan analisis terkait fungsi spesifik ayat Al-Qur'an sebagai instrumen perlindungan (himayah) dan legitimasi nasab. Temuan penelitian menunjukkan bahwa praktik Living Qur'an termanifestasi secara sistematis melalui tahapan ritual seperti Khatam al-Qur'an sebagai prasyarat kedewasaan religius, serta Malam Bainai yang mengalihfungsikan ayat-ayat suci sebagai sarana perlindungan (himayah) dan keberkahan (tabarruk). Ayat-ayat spesifik seperti QS. Ar-Rum: 21 digunakan secara fungsional sebagai fondasi filosofis pembentukan keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah, sementara QS. An-Nahl: 72 diintegrasikan untuk memperkuat legitimasi nasab dalam sistem matrilineal. Peran Niniak Mamak ditemukan sangat krusial, tidak hanya sebagai pemegang otoritas administratif dalam pemberian izin nikah (model NA), tetapi juga sebagai komunikator budaya yang menjelaskan status hukum pernikahan (Wajib, Sunnah, Mubah, Makruh, Haram) kepada calon mempelai. Secara filosofis, integrasi ini mencerminkan adagium Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, di mana Niniak Mamak bertindak sebagai hakam (mediator) yang menyelaraskan nilai-nilai al-Qur'an dengan kearifan lokal guna menjamin ketahanan moral dan sosial keluarga.                               

Downloads

Published

2026-04-30

How to Cite

Kanus, O., Riza Wardefi, Desri Nengsih, Nurjanah, & Ahmad Saerozi. (2026). Dialektika Wahyu dan Tradisi: Praktik Living Qur’an dalam Ritual Pranikah Masyarakat Minangkabau dan Otoritas Niniak Mamak 2016-2026. Jurnal Ilmu Sosial Dan Humaniora , 4(2), 606–624. https://doi.org/10.58540/isihumor.v4i2.1628

Issue

Section

Articles