Otoritas dan Feodalisme dalam Tradisi Pesantren Indonesia: Sebuah Kajian Interdisipliner tentang Kekuasaan, Pengetahuan, dan Modal Keagamaan

Authors

  • Resta Tultuffia Sari Institut Agama Islam Negeri Pontianak
  • Cipta Madani Institut Agama Islam Negeri Pontianak, Indonesia
  • Aulya Rizky Afradini Institut Agama Islam Negeri Pontianak, Indonesia
  • Qorrotul Uyun Institut Agama Islam Negeri Pontianak, Indonesia
  • Gabriel Angel Chanigia Institut Agama Islam Negeri Pontianak, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.58540/isihumor.v3i4.1064

Keywords:

Otoritas Kiai, Feodalisme Pesantren, Modal keagamaan, Pendidikan Islam, Struktur Hierarkis Pesantren

Abstract

Pendidikan pesantren di Indonesia memiliki tradisi panjang yang memadukan pengajaran agama dengan struktur sosial yang khas, di mana kiai memegang peran sentral sebagai pemimpin dan pusat legitimasi. Secara khusus, praktik otoritas kiai, feodalisme internal, dan modal keagamaan dalam pesantren menimbulkan dinamika sosial yang kompleks dan membutuhkan pemahaman mendalam. Penelitian ini diinisiasi karena terdapat gap dalam literatur sebelumnya yang jarang menelaah interaksi simultan antara otoritas, feodalisme, dan modal keagamaan serta adaptasi institusi pesantren terhadap modernitas. Metode penelitian yang digunakan adalah kajian pustaka (library research) dengan analisis konten terhadap literatur ilmiah, buku akademik, dan dokumen daring yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa otoritas kiai tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga berperan sebagai pusat legitimasi moral dan simbolik; praktik feodalisme dapat diminimalkan melalui sistem partisipatif yang melibatkan santri senior; serta modal sosial dan simbolik berfungsi sebagai perekat komunitas dan instrumen adaptasi terhadap perubahan sosial-digital. Temuan ini memberikan kontribusi teoritis dengan memperluas pemahaman relasi kuasa dan modal simbolik dalam institusi pesantren, sekaligus menawarkan panduan praktis bagi pengelola pesantren untuk menyeimbangkan otoritas, partisipasi santri, dan keberlanjutan institusi. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya strategi adaptif yang mempertahankan tradisi pesantren sekaligus responsif terhadap dinamika sosial dan teknologi modern.

Author Biographies

Cipta Madani, Institut Agama Islam Negeri Pontianak, Indonesia

Pendidikan pesantren di Indonesia memiliki tradisi panjang yang memadukan pengajaran agama dengan struktur sosial yang khas, di mana kiai memegang peran sentral sebagai pemimpin dan pusat legitimasi. Secara khusus, praktik otoritas kiai, feodalisme internal, dan modal keagamaan dalam pesantren menimbulkan dinamika sosial yang kompleks dan membutuhkan pemahaman mendalam. Penelitian ini diinisiasi karena terdapat gap dalam literatur sebelumnya yang jarang menelaah interaksi simultan antara otoritas, feodalisme, dan modal keagamaan serta adaptasi institusi pesantren terhadap modernitas. Metode penelitian yang digunakan adalah kajian pustaka (library research) dengan analisis konten terhadap literatur ilmiah, buku akademik, dan dokumen daring yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa otoritas kiai tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga berperan sebagai pusat legitimasi moral dan simbolik; praktik feodalisme dapat diminimalkan melalui sistem partisipatif yang melibatkan santri senior; serta modal sosial dan simbolik berfungsi sebagai perekat komunitas dan instrumen adaptasi terhadap perubahan sosial-digital. Temuan ini memberikan kontribusi teoritis dengan memperluas pemahaman relasi kuasa dan modal simbolik dalam institusi pesantren, sekaligus menawarkan panduan praktis bagi pengelola pesantren untuk menyeimbangkan otoritas, partisipasi santri, dan keberlanjutan institusi. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya strategi adaptif yang mempertahankan tradisi pesantren sekaligus responsif terhadap dinamika sosial dan teknologi modern.

Aulya Rizky Afradini, Institut Agama Islam Negeri Pontianak, Indonesia

Pendidikan pesantren di Indonesia memiliki tradisi panjang yang memadukan pengajaran agama dengan struktur sosial yang khas, di mana kiai memegang peran sentral sebagai pemimpin dan pusat legitimasi. Secara khusus, praktik otoritas kiai, feodalisme internal, dan modal keagamaan dalam pesantren menimbulkan dinamika sosial yang kompleks dan membutuhkan pemahaman mendalam. Penelitian ini diinisiasi karena terdapat gap dalam literatur sebelumnya yang jarang menelaah interaksi simultan antara otoritas, feodalisme, dan modal keagamaan serta adaptasi institusi pesantren terhadap modernitas. Metode penelitian yang digunakan adalah kajian pustaka (library research) dengan analisis konten terhadap literatur ilmiah, buku akademik, dan dokumen daring yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa otoritas kiai tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga berperan sebagai pusat legitimasi moral dan simbolik; praktik feodalisme dapat diminimalkan melalui sistem partisipatif yang melibatkan santri senior; serta modal sosial dan simbolik berfungsi sebagai perekat komunitas dan instrumen adaptasi terhadap perubahan sosial-digital. Temuan ini memberikan kontribusi teoritis dengan memperluas pemahaman relasi kuasa dan modal simbolik dalam institusi pesantren, sekaligus menawarkan panduan praktis bagi pengelola pesantren untuk menyeimbangkan otoritas, partisipasi santri, dan keberlanjutan institusi. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya strategi adaptif yang mempertahankan tradisi pesantren sekaligus responsif terhadap dinamika sosial dan teknologi modern.

Qorrotul Uyun, Institut Agama Islam Negeri Pontianak, Indonesia

Pendidikan pesantren di Indonesia memiliki tradisi panjang yang memadukan pengajaran agama dengan struktur sosial yang khas, di mana kiai memegang peran sentral sebagai pemimpin dan pusat legitimasi. Secara khusus, praktik otoritas kiai, feodalisme internal, dan modal keagamaan dalam pesantren menimbulkan dinamika sosial yang kompleks dan membutuhkan pemahaman mendalam. Penelitian ini diinisiasi karena terdapat gap dalam literatur sebelumnya yang jarang menelaah interaksi simultan antara otoritas, feodalisme, dan modal keagamaan serta adaptasi institusi pesantren terhadap modernitas. Metode penelitian yang digunakan adalah kajian pustaka (library research) dengan analisis konten terhadap literatur ilmiah, buku akademik, dan dokumen daring yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa otoritas kiai tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga berperan sebagai pusat legitimasi moral dan simbolik; praktik feodalisme dapat diminimalkan melalui sistem partisipatif yang melibatkan santri senior; serta modal sosial dan simbolik berfungsi sebagai perekat komunitas dan instrumen adaptasi terhadap perubahan sosial-digital. Temuan ini memberikan kontribusi teoritis dengan memperluas pemahaman relasi kuasa dan modal simbolik dalam institusi pesantren, sekaligus menawarkan panduan praktis bagi pengelola pesantren untuk menyeimbangkan otoritas, partisipasi santri, dan keberlanjutan institusi. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya strategi adaptif yang mempertahankan tradisi pesantren sekaligus responsif terhadap dinamika sosial dan teknologi modern.

Gabriel Angel Chanigia, Institut Agama Islam Negeri Pontianak, Indonesia

Pendidikan pesantren di Indonesia memiliki tradisi panjang yang memadukan pengajaran agama dengan struktur sosial yang khas, di mana kiai memegang peran sentral sebagai pemimpin dan pusat legitimasi. Secara khusus, praktik otoritas kiai, feodalisme internal, dan modal keagamaan dalam pesantren menimbulkan dinamika sosial yang kompleks dan membutuhkan pemahaman mendalam. Penelitian ini diinisiasi karena terdapat gap dalam literatur sebelumnya yang jarang menelaah interaksi simultan antara otoritas, feodalisme, dan modal keagamaan serta adaptasi institusi pesantren terhadap modernitas. Metode penelitian yang digunakan adalah kajian pustaka (library research) dengan analisis konten terhadap literatur ilmiah, buku akademik, dan dokumen daring yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa otoritas kiai tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga berperan sebagai pusat legitimasi moral dan simbolik; praktik feodalisme dapat diminimalkan melalui sistem partisipatif yang melibatkan santri senior; serta modal sosial dan simbolik berfungsi sebagai perekat komunitas dan instrumen adaptasi terhadap perubahan sosial-digital. Temuan ini memberikan kontribusi teoritis dengan memperluas pemahaman relasi kuasa dan modal simbolik dalam institusi pesantren, sekaligus menawarkan panduan praktis bagi pengelola pesantren untuk menyeimbangkan otoritas, partisipasi santri, dan keberlanjutan institusi. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya strategi adaptif yang mempertahankan tradisi pesantren sekaligus responsif terhadap dinamika sosial dan teknologi modern.

Downloads

Published

2025-10-30

How to Cite

Resta Tultuffia Sari, Cipta Madani, Aulya Rizky Afradini, Qorrotul Uyun, & Gabriel Angel Chanigia. (2025). Otoritas dan Feodalisme dalam Tradisi Pesantren Indonesia: Sebuah Kajian Interdisipliner tentang Kekuasaan, Pengetahuan, dan Modal Keagamaan . Jurnal Ilmu Sosial Dan Humaniora , 3(4), 207–218. https://doi.org/10.58540/isihumor.v3i4.1064

Issue

Section

Articles